Antara Devisa Dan Daya Dukung
Overtourism Di Bali Dan Masa Depan Pariwisata
Kelompok
-
Diterbitkan
4 Jun 2026
Dilihat
47 kali
Abstrak
Pariwisata merupakan salah satu sektor strategis yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya di Provinsi Bali yang menjadi destinasi wisata unggulan nasional. Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan setelah pandemi COVID-19 menunjukkan keberhasilan pemulihan sektor pariwisata. Namun, pertumbuhan tersebut juga memunculkan berbagai tantangan, salah satunya adalah fenomena overtourism atau kunjungan wisata yang melebihi daya dukung destinasi. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dampak peningkatan jumlah wisatawan terhadap aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan di Bali serta menganalisis pentingnya penerapan konsep pariwisata berkelanjutan sebagai solusi jangka panjang. Penulisan artikel dilakukan melalui studi pustaka dengan memanfaatkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Bali, serta berbagai publikasi ilmiah dan media massa yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan perolehan devisa negara. Akan tetapi, tingginya aktivitas wisata juga menyebabkan kemacetan lalu lintas, peningkatan volume sampah, tekanan terhadap ketersediaan air bersih, kenaikan harga lahan, serta perubahan sosial dan budaya di masyarakat lokal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pariwisata tidak dapat diukur hanya berdasarkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih berorientasi pada pariwisata berkualitas (quality tourism), pemerataan destinasi wisata, penguatan desa wisata, serta pengelolaan lingkungan yang lebih efektif guna menjaga daya saing dan keberlanjutan pariwisata Bali di masa depan.
Christian Tahara Anansah Sihite, Christiantahara.2023@Student.uny.ac.id
![]() |
Pagi itu kawasan Canggu, Bali, sudah dipenuhi kendaraan sejak matahari belum terlalu tinggi. Deretan sepeda motor, mobil sewaan, hingga bus pariwisata bergerak perlahan di jalan yang sebenarnya tidak dirancang untuk menampung volume kendaraan sebanyak itu. Di sisi lain, pantai yang dahulu dikenal tenang kini dipadati wisatawan dari berbagai negara. Restoran, beach club, dan penginapan terus bermunculan mengikuti tingginya permintaan pasar wisata. Bagi sebagian orang, kondisi tersebut dianggap sebagai pertanda keberhasilan pariwisata Bali. Namun bagi masyarakat lokal, situasi ini mulai menimbulkan pertanyaan baru. Sampai kapan Bali mampu menanggung jumlah wisatawan yang terus meningkat? Fenomena ini dikenal sebagai overtourism, yaitu kondisi ketika jumlah wisatawan yang datang melebihi kapasitas suatu destinasi sehingga mulai menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, sosial, budaya, maupun kualitas hidup masyarakat setempat. Dalam beberapa tahun terakhir, isu overtourism menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bali. Destinasi yang selama puluhan tahun menjadi ikon pariwisata Indonesia ini kini berada pada persimpangan antara kebutuhan meningkatkan ekonomi dan kewajiban menjaga keberlanjutan destinasi.
Pariwisata Sebagai Mesin Ekonomi
Tidak dapat dipungkiri bahwa sektor pariwisata memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang tahun 2024 mencapai sekitar 13,9 juta kunjungan. Angka tersebut meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bali masih menjadi pintu masuk utama wisatawan asing. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Bali, lebih dari enam juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Pulau Dewata sepanjang tahun 2024. Angka tersebut mendekati kondisi sebelum pandemi COVID-19. Peningkatan kunjungan wisatawan tentu memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Hotel, restoran, transportasi, pusat oleh-oleh, hingga pelaku UMKM memperoleh manfaat langsung dari aktivitas wisata. Ribuan masyarakat Bali menggantungkan sumber pendapatannya pada sektor ini. Kementerian Pariwisata mencatat bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi devisa hingga belasan miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya mendorong pertumbuhan industri wisata sebagai salah satu sektor unggulan nasional. Namun keberhasilan ekonomi tersebut ternyata juga menghadirkan persoalan baru yang tidak bisa diabaikan.
Kemacetan Di Kawasan Canggu, Bali
Ketika Jumlah Wisatawan Melampaui Kapasitas
Banyak destinasi wisata di Bali mulai mengalami tekanan akibat tingginya jumlah kunjungan wisatawan. Kawasan seperti Canggu, Uluwatu, Seminyak, Kuta, hingga Ubud menghadapi berbagai persoalan yang semakin kompleks. Kemacetan lalu lintas menjadi salah satu keluhan yang paling sering disampaikan masyarakat. Pertumbuhan kendaraan yang jauh lebih cepat dibandingkan pembangunan infrastruktur menyebabkan waktu tempuh antarwilayah semakin panjang. Selain itu, peningkatan aktivitas wisata juga berdampak pada konsumsi air bersih. Penelitian yang dilakukan beberapa lembaga lingkungan menunjukkan bahwa sejumlah wilayah di Bali mulai mengalami tekanan terhadap ketersediaan air tanah akibat meningkatnya kebutuhan hotel, vila, restoran, dan fasilitas wisata lainnya. Persoalan sampah juga menjadi tantangan serius. Data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali menunjukkan bahwa volume sampah yang dihasilkan setiap hari mencapai ribuan ton, dengan sebagian besar berasal dari aktivitas rumah tangga, usaha pariwisata, dan kawasan perkotaan.
Masyarakat Lokal di Tengah Gelombang Pariwisata
Di balik gemerlap industri wisata, terdapat kelompok masyarakat yang mulai merasakan dampak sosial dari perkembangan pariwisata yang terlalu cepat. Harga tanah dan properti di beberapa kawasan wisata mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Banyak investor luar daerah maupun luar negeri berlomba-lomba membangun akomodasi wisata, menyebabkan harga lahan sulit dijangkau oleh masyarakat lokal. Tidak sedikit generasi muda Bali yang kini kesulitan memiliki rumah di daerah tempat mereka dilahirkan karena harga tanah terus meningkat. Perubahan sosial juga mulai terlihat. Beberapa tradisi lokal mengalami komersialisasi demi memenuhi kebutuhan industri wisata. Upacara adat, pertunjukan budaya, bahkan ruang publik yang dahulu digunakan masyarakat setempat kini sering kali menjadi bagian dari produk wisata. Pariwisata memang membawa manfaat ekonomi, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, masyarakat lokal berpotensi menjadi penonton di daerahnya sendiri.
Belajar dari Negara Lain
Fenomena overtourism sebenarnya bukan hanya terjadi di Bali. Kota-kota wisata dunia seperti Barcelona di Spanyol, Venesia di Italia, dan Amsterdam di Belanda juga menghadapi persoalan serupa. Pemerintah Venesia bahkan mulai memberlakukan biaya masuk bagi wisatawan harian untuk mengurangi kepadatan pengunjung. Sementara Barcelona menerapkan pembatasan pembangunan akomodasi wisata baru di beberapa wilayah yang dianggap sudah terlalu padat. Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah wisatawan tidak boleh menjadi satu-satunya indikator keberhasilan pariwisata. Kualitas pengalaman wisatawan dan kesejahteraan masyarakat lokal juga harus menjadi pertimbangan utama. Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai negara tersebut sebelum dampak overtourism semakin sulit dikendalikan.
Desa Wisata sebagai Alternatif Pariwisata Berkelanjutan
Membangun Pariwisata yang Lebih Berkelanjutan
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mulai mengembangkan konsep pariwisata berkelanjutan melalui berbagai program. Salah satunya adalah pengembangan desa wisata yang bertujuan mendistribusikan arus wisatawan ke berbagai daerah. Hingga tahun 2024, Kementerian Pariwisata mencatat lebih dari 6.000 desa wisata telah terdaftar dalam Jejaring Desa Wisata (Jadesta). Program ini diharapkan dapat mengurangi konsentrasi wisatawan yang selama ini terlalu terpusat pada destinasi tertentu. Selain itu, penguatan transportasi publik, pengelolaan sampah terpadu, pembatasan pembangunan di kawasan rentan, serta edukasi wisatawan perlu menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan untuk mengatur distribusi kunjungan wisatawan melalui sistem reservasi, kuota kunjungan, dan pemantauan kapasitas destinasi secara real time. Namun semua kebijakan tersebut hanya akan berhasil apabila melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama, bukan sekadar objek pembangunan.
Wisatawan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai
Pengelolaan Sampah di Bali

Opini: Bali Tidak Membutuhkan Wisatawan Lebih Banyak, Tetapi Wisatawan yang Lebih Berkualitas
Selama ini keberhasilan sektor pariwisata sering diukur berdasarkan jumlah wisatawan yang datang. Semakin tinggi angka kunjungan, semakin dianggap berhasil. Padahal pendekatan tersebut mulai menunjukkan keterbatasannya. Bali mungkin tidak membutuhkan tambahan jutaan wisatawan baru setiap tahun. Yang dibutuhkan adalah wisatawan yang mampu memberikan manfaat ekonomi lebih besar dengan dampak lingkungan yang lebih kecil. Paradigma pariwisata berkualitas (quality tourism) menjadi semakin relevan dalam konteks ini. Fokusnya bukan lagi pada kuantitas, melainkan kualitas pengalaman wisatawan, lama tinggal, tingkat pengeluaran, serta kontribusinya terhadap ekonomi lokal. Jika orientasi pembangunan masih berpusat pada peningkatan jumlah kunjungan semata, maka Bali berisiko kehilangan daya tarik utamanya: keaslian budaya, keindahan alam, dan kenyamanan destinasi.Pariwisata seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan sumber daya yang menjadi fondasi utama keberlangsungannya.
Penutup
Bali telah menjadi wajah pariwisata Indonesia di mata dunia selama puluhan tahun. Keberhasilan tersebut patut diapresiasi karena mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan menggerakkan ekonomi daerah. Namun keberhasilan itu juga membawa konsekuensi yang tidak kecil. Kemacetan, tekanan lingkungan, meningkatnya volume sampah, serta perubahan sosial merupakan sinyal bahwa kapasitas destinasi memiliki batas. Pariwisata yang berkelanjutan bukan berarti menghentikan pertumbuhan, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut tetap berada dalam batas yang mampu ditanggung oleh lingkungan dan masyarakat. Pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi bagaimana mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana memastikan Bali tetap menjadi tempat yang layak dihuni oleh masyarakatnya sekaligus tetap menarik bagi wisatawan di masa depan.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik kunjungan wisatawan mancanegara 2024. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id Badan Pusat Statistik. (2025). Perkembangan pariwisata dan transportasi nasional tahun 2024. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id Bali. (2025). Data kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik Provinsi Bali tahun 2024. Pemerintah Provinsi Bali. Pemerintah Provinsi Bali Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. (2025). Laporan kinerja sektor pariwisata Indonesia tahun 2024. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Jadesta (Jejaring Desa Wisata) Kementerian Pariwisata. (2024). Data perkembangan desa wisata Indonesia. World Economic Forum. (2024). Travel & tourism development index 2024. World Economic Forum. https://www.weforum.org/publications/travel-tourism-development-index-2024 UN Tourism. (2024). Tourism and sustainable development report 2024. UN Tourism. https://www.unwto.org Tempo.co. (2024, 30 Agustus). Lebih dari 6 ribu desa wisata bersaing dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024. Kompas.com Travel. (2024). Kemacetan dan kepadatan wisatawan menjadi tantangan baru pariwisata Bali. CNN Indonesia Travel. (2024). Bali hadapi tantangan overtourism di sejumlah destinasi wisata populer. Mongabay Indonesia. (2024). Tantangan lingkungan dan pengelolaan sampah di kawasan wisata Bali.

